Senin, 28 April 2014
Capturing Wamena
Ketika mendarat di Wamena maka sensasinya akan semakin bertambah, kita seperti berada di sebuah mangkuk, karena letak geografis Wamena yang dikelilingi pegunungan, sehingga sejauh mata memandang yg terlihat adalah pegunungan. Ada lagi yg bikin kita geleng2 dengan kota ini, yaitu barang-barangnya yg muahaallll. Maklum sebagian besar barang mulai dari bahan makanan, bangunan dll dikirim lewat udara. Sebagai contoh ayam goreng di warung makan harganya bisa sampai 120 ribu rupiah per porsi, bensin eceran 20 ribu per liter, dan masih banyak lagi. Oh ya di sini uang receh tidak laku jd jangan coba-coba bayar pake recehan pasti langsung ditolak hehehe...
Namun itu semua nanti akan terbayar dengan melihat pemandangan pegunungan di Wamena yang indah dan eksotik ciee hahaha....
Jadi pesan saya adalah "See Wamena before You Die"
Chandra Adi
Februari 2010
Minggu, 24 Mei 2009
Sepenggal Cerita Gagal Ke Bali

Oleh : Chandra Adi N.
Ada cerita lucu yang selalu muncul jika bicara mengenai Bali. Bagi temen-temen dari SMA 2 Jogja yang seangkatan sama saya (tepatnya angkt 1995-1998) pasti tidak pernah lupa dengan peristiwa itu.
Singkatnya begini : Liburan sekolah tiba, saatnya kita piknik. Kalo jaman sekolah dulu istilah kerennya study tour, dan tujuan kita waktu itu adalah Bali. Hari keberangkatan sudah ditentukan, persiapan segala macem udah disiapkan, barang bawaan udah seabrek, daftar titipan oleh2 dari tetangga juga udah ditulis, tinggal berangkat dah pokoknya.
Maka berkumpulah kita untuk menunggu bis yang akan mengantar ke pulau dewata yang sangat terkenal itu. Namun apa yang terjadi, bagai petir di siang bolong, bisnya batal datang. Dan cerita selanjutnya pun bisa ditebak.... Kita GAGAL KE BALI.
Foto ini saya persembahkan buat temen2 seangkatan yang belum sempat ke sana, mudah2an suatu saat nanti kita bisa bareng-bareng berangkat kesana.....



Hadangan, Kerbau Perenang dari Amuntai

oleh : Chandra Adi N.
Kerbau rawa, sesuai dengan namanya kerbau ini memang tinggal di rawa-rawa. Kenapa bisa begitu? Terus apa bedanya dengan kerbau pada umumnya? Nah pertanyaan itu yang muncul dalam benak saya ketika mengunjungi kota Amuntai, kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, yang konon kabarnya merupakan salah satu tempat habitat kerbau rawa. Kota Amuntai merupakan ibu kota kabupaten Hulu Sungai Utara yang jika di tempuh dari Banjarmasin kira-kira memerlukan waktu kurang lebih 5 jam dengan menggunakan mobil. Di kabupaten ini sebagian besar tanahnya berupa rawa atau lahan gambut. Maka tak heran jika selama perjalanan yang terlihat hanyalah hamparan rawa yang sangat luas di sebelah kanan dan kiri jalan. Dari kota Amuntai menuju menuju lokasi peternakan kerbau rawa sendiri kita masih harus naik kapal motor selama kurang lebih 1 setengah jam.
Kerbau rawa atau masyarakat lokal menyebutnya dengan hadangan ini sebenarnya sama dengan kerbau yang biasa kita lihat. Hanya saja kerbau ini memiliki kemampuan untuk berenang. Hal tersebut disebabkan oleh proses adaptasi kerbau dengan lingkungannya, yang sebagian besar adalah rawa. Setiap pagi para peternak akan melepas kerbau rawa miliknya untuk mencari makan. Mereka biasa menggiring ternaknya menuju lokasi yang banyak terdapat rumput atau enceng gondok. Meski berat kerbau ini bisa mencapai 1 ton, namun para kerbau ini tetap lihai untuk berenang. Biasanya kerbau ini mulai bisa berenang setelah umurnya mencapai 1 tahun. Setelah kenyang kerbau-kerbau ini akan pulang dengan sendirinya menjelang sore hari. Yang unik adalah, di daerah rawa yang luas ini terdapat puluhan kandang, meski demikian puluhan kerbau ini tidak pernah salah masuk ke kandang masing-ma
sing.
Yang mesti diperhatikan jika ingin mendekati kerbau ini adalah jangan pernah memamakai baju berwarna merah menyala. Karena kelakuan mereka ternyata mirip dengan saudara mereka banteng matador yang berada di Spanyol, yakni suka menyeruduk ke benda yang berwarna merah. Entah ini benar secara ilmiah atau tidak, namun peringatan inilah yang diberikan para peternak jika kita memang ingin mendakati kerbau rawa ini. Selain itu jangan mendekati kerbau betina yang baru memiliki anak, karena mereka akan sangat agresif. Sikap agresif tersebut muncul sebagai sifat alamiah induk yang ingin melindungi anaknya.













